forklift forklift kiralama ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme Casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------- Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- cilt bakımı ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme

Artikel Nge-Bully atau Sekedar Kurang Peka?

Share Button

Think before posting memang anjuran yg universal dan berlaku mutlak. Cuma memang suka ada yg mungkin karena silap, jadinya suka posting sesuatu yang kemudian dpt berimbas pada hal yg (dianggap) buruk. Semalam (13/10/2011) saya melakukan kritik keras via twitter tentang artikel ini di salingsilang.com. Why?

Di artikel tersebut ditulis bahwa si korban yg di-bully (karena postingan ybs di twitter yg dianggap tak pantas), adalah “bukan siapa-siapa”. Secara pemilihan bahasa, sebenarnya ini ndak masalah. Tetapi komunikasi itu adalah teknik memahami konteks. Dlm kultur komunikasi yg high-context, sebuah kata/kalimat tak bisa serta-merta hanya punya satu makna. Penggunaan kata “bukan siapa-siapa” itu bisa jadi memang tak bermaksud mendeskriditkan ybs. Mungkin kalau dalam bahasa bule, akan digunakan kata “they are common people“. Adem bukan? 🙂

Tapi itu tadi, karena kita ini dilingkupi bahasa2 high-context (penuh makna, simbolik, kontekstual), maka “bukan siapa-siapa” tadi dpt juga diterjemahkan menjadi “they are nothing“. Jadi beda bukan maknanya? Inilah perlu kearifan penulisnya untuk menambahkan penjelasan, apa sih yg dimaksud dgn “bukan siapa-siapa” dlm tulisan tersebut.

Pun harus diingat, secara kontekstual tulisan “bukan siapa-siapa” tersebut disampaikan oleh sebuah institusi yg menaungi sekian banyak tuips pilihan (memiliki jumlah follower banyak, yg dikenal dgn sebutan buzzer) untuk keperluan program komunikasi mereka.

Ini memang soal sensitifitas pemilihan kata/kalimat, dan bagaimana kedewasaan pembaca memaknainya. Problemnya, tulisan tersebut kemudian sampai harus menyebutkan nama akun twitter, berapa jumlah follower dan nama asli mereka yg sedang jadi korban bully tersebut.

Nah pertama, tak ada yg salah, tapi kurang peka. Karena dari postingan artikel tersebut bisa memiliki makna lain bahwa si korban adalah “bukan siapa-siapa” karena “jumlah follower”-nya yg sedikit. Naifkah jika ada pembaca yg berpikir seperti itu? Tentu tidak, sebab sekali lagi, ini masalah konteks komunikasi dan kepekaan.

Kedua, tak ada yg salah, tapi kurang beretika. Karena dalam postingan artikel tersebut seakan “dikorek” informasi yg mungkin adalah privasi ybs, seperti nama lengkap, profesi dan lokasi. Dgn membeberkan data selengkap2nya, ini sama saja dgn mengeskpos si korban bully tersebut lebar2 kepada publik yg kemudian dpt memancing reaksi2 negatif lainnya kepada ybs.

Lho bukannya data2 tersebut memang ditulis di twitter akun mereka? Ya memang, tetapi tetap perlu ada batasan dalam membeberkan data privasi seseorang. Apalagi di ranah online, catatan yg telah terposting akan abadi selamanya. Dan bayangkan efeknya, jika kemudian ybs suatu saat nanti harus mencari pekerjaan atau ada keperluan lainnya, tetapi nama aslinya terekam abadi di Internet atas sesuatu yg sebenarnya telah disesalinya sejak awal.

Bahwa orang lain toh bisa saja tahu data2 diri ybs dgn berbagai cara, ya biarkan saja. Tetapi setidaknya jangan kita membantu menanamkan potensi-potensi yg dpt merugikan diri ybs jauh lebih besar di kemudian hari.

Karena kalau kita tak pandai membatasi diri atas penulisan dan pengungkapan ke publik tentang privasi seseorang, maka suatu saat itu akan jadi bumerang atas diri kita sendiri dalam konteks kebebasan berekspresi. Kok bisa? Ya, karena kebebasan berekspresi haruslah seiring sejalan dgn konteks bebasnya pelaku ekspresi atas hal2 yg tak relevan atau dpt merugikan dirinya.

Tak akan mungkin orang bisa bebas berekspresi jika dirinya merasa bebas. Bukan soal terancam harta atau nyawa, tetapi cukup diancam dibeberkan data privasi diri ataupun keluarganya. Di ranah Internet yg berjejaring ini, sangat mudah untuk menentukan seseorang sedang dimana, bersama siapa dan berbuat apa 🙂

Sehingga mudah dipahami, dan saya sangat mendukung, bahwa banyak pelaku kebebasan berekspresi memilih untuk stay anonym atau pseudonym (pakai nama/identitas palsu). Karena alasann untuk mereka yg anonym/pseudonym intinya hanya karena 2 hal: freedom of constraint atau freedom of responsibility. Mereka yg punya niat positif, tentu alasannya adalah yg pertama. Sedangkan yg memang niatnya negatif, alasannya adalah yg kedua. Hal ini mungkin akan saya tulis lebih lengkap dikesempatan lain 🙂

Jadi kembali lagi ke kasus di atas, pembeberan informasi privasi si korban kepada publik tanpa seijin ybs melalui media apapun, “seolah”  encouraging others to harras the victim.

Bagi penulis artikel tsb, mungkin memang tidak punya niatan untuk itu. Dan saya yakin memang demikian. Saya kenal cukup baik dgnnya, tetapi kritik atas tulisannya akan lebih baik saya sampaikan dalam bentuk tulisan (ini) juga agar bisa menjadi catatan terbuka bagi kita semua.

Nah, artikel yg ditulis oleh kawan saya tsb, ternyata dpt saja (dan terbukti sudah) ditanggapi lain oleh pembacanya. Toh menurut saya, sepandai2nya dan sebijak2nya kita menulis dan menata kata/kalimat dalam tulisan, kita tdk akan dapat mengontrol atau memprediksi secara persis apa reaksi dari setiap pembacanya.

Para penulis hanya perlu lebih beretika dan sensitif, apalagi jika terkait dengan kenyamanan/keamanan diri seseorang baik di offline ataupun online.

Lalu apakah artikel tersebut merupakan cyberbully atau bukan? Bisa jadi bukan! Dan saya minta maaf kepada seluruh follower tuit saya karena sempat emosional + gegabah mentuit bahwa artikel tsb di salingsilang.com adalah (yakin) bully. Untung sempat diingatkan oleh sahabat saya mas anggara dan hermansaksono dan kawan2 tuips lainnya. Tetapi yang jelas salah satu trik untuk mulai atau membuka kesempatan pem-bully-an adalah pengungkapan data personal, memposting foto korban tanpa seijin ybs, dst-nya. Silakan baca tentang apa itu cyberbully.

Demikian, postingan artikel saya ini sebagai penebusan “dosa”. Dosa apa? Baca ini dan ini aja deh…. 😉

 

-dbu-

Share Button

32 Comments

  1. hm, bahaya juga ya. terutama bahwa track record seseorang saat ini dengan mudah dapat ditelusuri di Internet. baiklah. thanks artikel ini mas Donny 🙂

    1. donnybu says:

      betul mas, soalnya sekali kita coba2 bermain dgn privasi orang, kita bisa tergelincir lebih jauh 🙂

  2. Nike says:

    saya mengikuti diskusi mas donny juga mas anggara tadi malam, berikut juga diskusi #nomention-nya.
    Disisi lain, juga @hermansaksono ngomongin hal yg sama, soal bully ini pernah diposting momon diblognya.

    untungnya mas donny posting, jadi bisa lebih ngerti gimana masalahnya 🙂

    thx udah share mas.

    1. donnybu says:

      sama2 mbak… saya juga banyak belajar dari kesalahan dan kekonyolan saya sendiri saat posting sesuatu di internet yg kerap tanpa pikir panjang 🙂

  3. Enda says:

    Tengkyu Om Donny masukkannya, valid point rasanya kita di Salingsilang juga jadi belajar.

    1. donnybu says:

      sama2 mas enda… sudah saatnya memang bareng2 kita dorong kawan2 untuk dapat mengkritik dan berargumen dengan akal sehat. saya pun masih tertatih-tatih… mari belajar bersama… 😉

  4. […] serupa juga dilontarkan oleh Donny BU, yang kemudian dituangkan ke blognya. Walaupun saya tidak setuju kalau kejadian memaki-maki itu masuk ke kategory bullying (baca artikel […]

    1. donnybu says:

      terimakasih, artikel http://hermansaksono.com/2011/10/salahkah-memasang-identitas-akun-twitter.html sudah memperkaya khasanah diskusi 🙂

  5. memeth says:

    ttg istilah bully, kuatirnya dg makin latahnya orang make istilah bully ketika dia diejek2, diolok-olok, dikritik, etc, dapat menimbulkan salah kaprah orang awam utk memahami apa itu bully.

    mengejek, mengolok-olok, melabeli dg penyebutan untuk merendahkan, adalah salah sekian dari bentuk bully. tapi ada syarat lain untuk bisa disebut apakah hal tsb bully.
    maksutnya, salah satu bentuk bully adalah mengejek (secara berulang-ulang). tetapi mengejek itu sendiri belum tentu/bukan bully.

    well, insiden artikel salsil bisa ditarik macam2 isu untuk didiskusikan secara sehat dan terbuka. 😀
    termasuk isu diksi dalam hal penulisan ‘mereka bukan siapa-siapa’ itu.

    1. donnybu says:

      ini betul, saya sempat mengkaprahkan penggunaan kata bully itu sendiri. koreksinya sangat bermanfaat 🙂 tks. lalu terkait “mereka bukan siapa2”, sebenarnya sangat “menantang” kalau ada yg mau eksplor lebih lanjut dari kaidah komunikasinya. bukan untuk memperuncing perbedaan menjadi konflik, tetapi justru memperkaya keberagaman berpikir 🙂

  6. jarwadi says:

    nah kalau dituliskan di blog begini saya jadi lebih enak memahaminya, mengikuti diskusi di twitter bener bener pusing 🙂

  7. ihsangamerz says:

    wah wah mas kalo menurut saya sih kalo masalah itu tidak apa-apa,asalkan jgn mengandung berita HOAX/Palsu aja ^^

  8. Omar Salim says:

    “Tetapi tetap perlu ada batasan dalam membeberkan data privasi seseorang” *catet*
    Dalam perkara ini tentunya secara agama mengatur tentang adab dan hak seseorang dengan saudaranya. Perlu kiranya meminta ijin kepada yang bersangkutan. Sehingga tidak menimbulkan fitnah. Bahkan perpecahan dan permusuhan di antara kita. Mari kita belajar bersama.. Dan tentunya saling menasehati dengan hikmah…

    Karena amar ma’ruf nahi munkar itu tanpa bikin onar! 🙂

  9. Kaget says:

    Socmed memang menarik, tapi sepertinya bisa menghasilkan sesuatu yang sangat ‘menggigit’ bagi orang lain. Soal Twit yang terkadang masih banyak blogger yang belum memahami perlu adanya wadah. Atau bisa dibundling kedalam komunitas blog?

  10. honeylizious says:

    ‘bukan siapa-siapa’ karena nggak punya banyak followers? gimana dengan yang nggak punya akun twitter yah…

    meskipun maksud sang penulis bukan demikian adanya tapi memang yang akan lebih ditangkap pembaca adalah sisi tidak baiknya….

    salam kenal mas

    dari Hani di Pontianak

  11. wahyu winoto says:

    terkadang hal smacam itu lumarah dlm pembicaraan antar kawan, cm dlm kasus itu yg jd mslh adalah krna muncul di media massa (intrnet) yg mana akan ada banyak komentar muncul, mgkin klo diskusi itu dilakukan langsung face to face akan ada banyak penyamaan persepsi dibanding rasa ingin menyerang si pembuat statemen.

    Dari pada saling menyerang, yuk kita dukung aja agar para penulis mjdi agen pembangunan daerah masing2 blogger ndeso siap mbangun deso

  12. ndop says:

    mereka bukan siapa siapa… memang kadang nyelekit ya, kalau ditambahi kalimat.. “ya sama kayak kita-kita ini”.. mungkin bisa lebih meredakan suasana

  13. Rusa says:

    bukan siapa2 ya? iya juga ya kalo dipikir2, itu kan bukan blog pribadi yg menulis begitu.

  14. Hollister UK says:

    memang hanya memberikan akun twitter, misalnya “yuk follow @internetsehat” maka sebenarnya bisa dibandingkan saja berapa persen kenaikan impression tweet tersebut (pake tweetreach.com) dan dibandingkan

  15. memberikan akun twitter, misalnya “yuk follow @internetsehat” maka sebenarnya bisa dibandingkan saja berapa persen kenaikan impression tweet tersebut (pake tweetreach.com) dan

  16. eko marwanto says:

    Jadi pengen belajar jurnalis nih, biar ngeblognya lebih bernilai dan lebih ber-etika,.. soalnya selama ini nulis cuma serampangan aja..

  17. Apapun yang mas bicarakan di atas saya sangat setuju dan mendukung seratus persen..

  18. What a fun pattern! It’s great to hear from you and see what you’ve sent up to. All of the projects look great! You make it so simple to this. Thanks

  19. I was extremely pleased to find this website. I wanted to thank you for the good understand I definitely enjoying every single small bit of it and We’ve you bookmarked to check out new stuff you post.

  20. adi pradana says:

    memang benar kalimat anjuran think before posting, menulis di media sosial ada unggah ungguhnya walaupun ada kebebasan berekspresi. Manusia adalah makhluk sosial… saling mengingatkan sajalah.

  21. tidar says:

    bijak dalam memilih kata
    socmed itu hutan rimba yang kadang kejam dan tiada ampun

  22. don15 says:

    think before posting.,.,.,quotenya mengena sekali,.,.,harus berhati-hati dalam memilih kata dan perkataan 🙂

  23. idwebpulsa says:

    di satu sisi sosmed memberi peluang informasi da berpendapat yang sangat luas dan lebar. tapi disisi yang lain bisa mjd bumerang ke diri sendiri krn sifatnya yg sangat terbuka itu.

  24. ujuj says:

    jangan pake kata bully lagi. bahasa indonesianya PELATOK, PENDEL, ATAU TINDES. Lihat ayam2 yang gede di kandang suka memelatoki atau memendel ayam2 kecil. Nah. MEM-BULLY = MEMELATOK, MEMENDEL, MENINDES. AYO biasakan PAKE BAHASA INDONESIA MUMPUNG BELUM TERLANJUR.

  25. hanari says:

    mulutmu adalah harimaumu, walaupun melalui tulisan .

  26. luthfi says:

    bahwa etika itu penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

forklift forklift kiralama ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme Casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------- Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- cilt bakımı ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme