forklift forklift kiralama ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme Casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------- Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- cilt bakımı ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme

Kita Mengabaikan Keselamatan Anak di Internet?

Lagi-lagi ada berita seorang anak perempuan diculik “temannya” hasil berkenalan via Facebook. Anak perempuan tersebut kemudian harus mengalami kekerasan seksual dan dikeluarkan dari sekolah (baca artikel ini dan artikel ini). Saya sempat merenung, apakah program Internet Sehat yang dijalankan selama ini oleh teman2 ICT Watch bersama komunitas sejak 2002 silam, yang kemudian diadopsi oleh Kemkominfo sebagai Internet Sehat dan Aman, sekedar jalan di tempat?

Padahal sejak 1999 saya sudah mencoba mengingatkan adanya potensi resiko serupa (baca artikel ini dan artikel ini). Bahkan Komnas Perlindungan Anak pada awal 2010 juga mencatat hal yang sama (baca artikel ini). Setelah saya coba renungkan, rupanya ada satu kealpaan mendasar ketika kita bicara tentang “Internet Safety for Family” selama ini. Apakah itu?

Kealpaan tersebut adalah kita disibukkan dengan urusan “pornografi”. Ketika bicara tentang Internet yang aman dan nyaman bagi anak, kebanyakan dari kita hanya berkutat pada masalah konten negatif. Dari sekian banyak jenis konten negatif di Internet, boleh dikatakan pornografi mengambil porsi perhatian terbesar. Maka tak heran jika kemudian banyak pihak yang merasa perlu membela keamanan dan kenyamanan anak di Internet, tak dapat banyak beranjak dari hal tersebut.

Padahal, seperti acapkali saya coba sampaikan di sejumlah kesempatan, bahwa dalam konteks “anak dan Internet”, ibarat pucuk gunung es di tengah samudera, pornografi itu berada paling puncak. Karena berada paling puncak, maka meski pornografi paling mudah terlihat, tetapi sebenarnya di bawahnya ada hal lain yang tidak tampak tetapi memiliki daya rusak yang tidak kalah hebatnya, atau bahkan jauh lebih hebat. Jika teman2 ingat film Titanic, maka robeknya lambung kapal yang mengakibatkannya tenggelam adalah bukan karena pucuk gunung es (yang tampak), tetapi terhantam bagian bawah gunung es (yang tidak tampak, tetapi lebih masif).

Privasi dan sekuriti anak saat ber-Internet, adalah hal yang tak kasat mata, yang mudah terabaikan dan memiliki potensi daya rusak luar biasa terhadap anak! Saya tidak mengatakan bahwa pornografi itu hal yang sepele, bukan itu! Tetapi pornografi relatif lebih mudah kita hindari. Materi pornografi, secara umum kasat mata. Dengan demikian maka Nawala misalnya, sudah mencoba memberikan solusi untuk Internet yang lebih bersih bagi keluarga atau siapapun yang membutuhkan solusi pemblokiran konten negatif dari Internet yang diaksesnya. Memang tidak ada jaminan bahwa pemblokiran konten pornografi akan efektif 100%, tetapi upaya pencegahannya relatif lebih mudah dijangkau dan dilakukan. Harus dicatat pula, bahwa di beberapa kasus terjadi  penurunan tingkat kewaspadaan orangtua ketika lantas tanpa sengaja cenderung menjadi lalai dengan melakukan “outsource“  tanggungjawab pengawasan aktifitas anaknya di Internet kepada mekanisme pemblokiran, penyedia jasa Internet ataupun pemerintah.

Tetapi ketika masuk ke ranah privasi dan sekuriti, khususnya bagi anak dan keluarga, tak sehiruk-pikuk isu tentang “pornografi”, “moralitas” dan “kebebasan berekspresi”. Mengapa? Saya tidak tahu jawaban persisnya.

Dalam satu kesempatan workshop dengan teman-teman APJII pada pertengahan 2012, saya sempat demokan betapa mudahnya mencari “mangsa” di Internet, hanya bermodalkan beberapa media sosial seperti foursquare, facebook dan twitter. Karena dengan data (privasi) yang melimpah ruah di media sosial, jangankan cuma sekedar nama dan alamat tinggal, bahkan termasuk gaya hidup dan latar belakang si target pun bisa didapat.

Seperti kata Bang Napi, kejahatan tidak hanya karena niat pelakunya, tetapi juga ada kesempatan. Dan memang, ketika anak mengumbar data dirinya di Internet, maka kesempatan bagi orang lain untuk berbuat jahat pun terbuka luas. Belum lama berselang, teman dari JakartaPost mewawancara saya mengenai kasus penculikan dan pemerkosaan tersebut di atas. Dan tegas saya katakan, bahwa kita selama ini lebih sibuk diperdebatan tentang pornografi dan cenderung mengabaikan hal tentang privasi dan sekuriti anak (baca artikel ini).

Lalu kalau sudah begini, siapa yang harusnya bertanggung-jawab? Maka saya bercermin dan menunjuk diri saya sendiri. Mungkin selama ini saya terlampau banyak meluangkan atau melayani perdebatan yang tidak produktif seputar pornografi, moralitas, kebebasan berekspresi, dan sebagainya. Sehingga sebagai individu, saya menjadi lengah untuk berbuat sesuatu agar kasus yang merebak di 2009-2012, tidak kemudian terulang lagi di 2012 ini. Ini kegagalan saya, sebagai individu, untuk memperjuangkan agar hal ini tidak terjadi lagi.

Lantas apa gunanya program Internet Sehat?

Nyatanya, pengguna Internet di Indonesia menurut InternetWorldStats sebanyak 55 juta orang. Jika hanya mengandalkan tim ICT Watch yang berjumlah “hanya” 8 (delapan orang), dengan asumsi tiap orang non-stop 30 (tigapuluh) hari sebulan memberikan workshop “Internet Safety for Family” ke 3 (tiga) lokasi yang berbeda, dan diikuti oleh 100 orang per lokasinya, maka dibutuhkan 63 (enam puluh tiga) tahun untuk menyelesaikannya!

Saya sangat senang ketika sejumlah komunitas blogger di Indonesia, kemudian turut membantu menyuarakan pentingnya menjaga anak di Internet. Setiap saat saya selalu mendapatkan kabar baik tersebut, ketika secara swadaya teman-teman komunitas blogger dengan konteks kelokalannya, melakukan perjuangan demi mencegah dampak negatif Internet, yang tidak melulu hanya pornografi. Namun, sejatinya hal tersebut masih jauh dari memadai.

Perjuangan agar orangtua, guru, murid dan anak tetap peduli dan menjaga privasi dan sekuriti di Internet, seyogyanya adalah tanggungjawab yang tak kunjung padam dari seluruh individu pengguna Internet. Bukan model perjuangan semusim, ketika semua beramai-ramai meriuh-rendahkan percakapan tentang topik tertentu di media sosial, dan kemudian terlupa begitu saja karena isu lain lebih nyaring dipekikkan kerumunan. Saya hanya bisa berharap, bahwa suatu ketika teman-teman blogger, tweeps dan facebooker secara bersama melantangkan hal privasi dan sekuriti ini. Persetan dengan trending topic dan pro-kontra soal buzzer.  Jangan pula khotbah tentang moral vs debat  kebebasan berekspresi mengambil posisi dan sumber daya dominan pada perbincangan ranah maya.

Ketika ada potensial ancaman atas hak asasi anak untuk dapat hidup tanpa ketakutan dan kekerasan, maka menjadi “eling lan waspodo” (ingat dan waspada) adalah hal logis yang pertama kali dapat dilakukan oleh kita yang merasa dirinya bagian dari nettizen Indonesia. Hidup ini singkat, Internet bukanlah warisan turun temurun, tetapi titipan dari anak cucu kita. Silakan riuh-rendah, tetapi jangan pongah menyerapah. Karena itu hanya menjadi residu sampah Internet bagi pelanjut kita. Dan sekali lagi, ketika bicara soal kepentingan anak, maka waraslah dan lakukan kesalehan sosial di ranah maya.

Tidak ada pertikaian maupun perdebatan yang dapat diposisikan lebih penting daripada memperjuangkan keselamatan anak ketika ber-Internet. Dan saya pun berjanji, demi anak (siapapun), untuk lebih meluangkan waktu berjuang di sisi keselamatan anak di Internet, ketimbang melayani pro-kontra yang tidak produktif. Bagaimana dengan Anda? :)

Salam,

ps: Artikel ini sangat mungkin untuk di-update terus, isi bisa direvisi atau dilengkapi, tetapi maknanya tidak akan berubah. Pro-kontra silakan. Nyinyir pun boleh, asalkan tunduk pada disclaimer ini: “lantas apa yang sudah/akan Anda perbuat?” :)

-dbu-

13 Comments

  1. Bukik says:

    Kang, setuju dengan pendapat anda
    Pornografi hanyalah pucuk gunung es
    Bahkan security anak di internet pun masih tengahnya gunung es
    Program Internet sehat bisa lebih berdaya bila memberdayakan keluarga, komunitas siswa dan sekolah (bisa fokus salah satu).
    Misal kerja bareng sama Takita untuk membuat program “Keluarga Sadar Internet” hehe
    Dari berbagai kasus anak yang saya ikuti, anak yang menjadi korban itu seringkali diluar jangkauan keluarga & teman-teman dekatnya dalam mengakses internet.
    Artinya, kasus anak itu tidak semata problem teknologi, tapi juga problem keluarga dan sosial. Solusinya harusnya memadukan teknologi dan keluarga/sosial
    Bukik recently posted..#CeritaTakita 3: Kado Ulang Tahun untuk Ayah oleh Kak Dini

    1. donnybu says:

      kang bukik, tks atas update dan sarannya. sepakat, bahwa ruh ttg “internetsehat” seharusnya memang ditanamkan dgn cara peer group. jd ketimbang hanya dilakukan dgn model ceramah, lbh akan berdampak jika dlm bentuk pendampingan sebaya. mudah2an bisa direalisasikan bersama dgn para pemangku kepentingan.

  2. IMHO, penanggulangan konten porno tetap utama, namun membangun kesadaran bahwa internet bukanlah ranah yang 100% aman juga harus ditingkatkan. Saya juga suka ngeri sendiri sih kalo ada ortu yang posting foto anaknya mulai lahir sampe gede, plus dikasi tambahan nama lengkap dst.. Ada juga seorang ibu yang posting video keseharian gadis ciliknya (yang memang cantik) di youtube, mulai dari bangun tidur sampe acara mandi, duh ngeri banget.. #curcol *komen ini tidak berkontribusi sama sekali, malah membuat ngeri*

    1. donnybu says:

      komennya sangat berkontribusi mas, hehehe.. jd kita bisa sama2 tau kasus2 lain yg harus diwaspadai oleh para ortu. narsis u/ anaknya sih sah2 saja, tp kalo gak bijak yaa namanya menjerumuskan si anak :) soal minimalisir dampak pornografi bagi anak, tentu tetap pararel harus dilakukan jg.

  3. Kika Syafii says:

    Pada kenyataannya, banyak yang melupakan hal prinsip yang seharusnya dilakukan dan dijaga. *Buru-buru delete foto anak-anakku*
    Kika Syafii recently posted..5 Pertanyaan Penting (Peter Drucker)

    1. donnybu says:

      praktek mengamankan keluarga, khususnya anak, di internet memang bukan melulu soal kemampuan teknis. insting juga berperan, dan itu bisa dilatih melalui habbit. kudu sabar….. aku sendiri yaa msh belajaran :)

  4. Jangan lupa, anak-anak sekarang banyak yang punya smartphone. Mereka bisa akses website apa saja dengan bebas tanpa pengawasan orang tua.

    Itu sebabnya, anakku yang masih di bawah 13 tahun dilarang punya smarphone.

    Anak di bawah 13 tahun, di rumah bebas berinternetan, tapi didampingi ayah/ibunya.

    1. donnybu says:

      ini contoh nyata, strategi yg bisa dipakai oleh ortu terkait dgn merangseknya gadget digital ke tengah keluarga. ndak banyak ortu yg mau begini, dgn alasan yg beraneka. tp yg dilakukan mas nukman menegaskan bahwa, “ingatlah, sesal kemudian tdk berguna”. tks atas tipsnya…

      1. Andy MSE says:

        anak-anak tetangga saya banyak yang trek-trekan (banyak-banyakan) jumlah teman di media sosial. semakin banyak teman, semakin merasa gaul walaupun tidak semua teman di media sosial benar2 dikenal. :(
        http://goo.gl/sYkBg

  5. Andrizal Mxp says:

    Artikel yg sangat mencerahkan mas, setidaknya untuk saya saat ini… karena hampir senasib seperti mas, sepertinya sya terlalu lama berkutit pada efek negatif internet yaitu pornografi padahal ada perspektif lain yg terlupakan. … sya setuju dengan pendapat mas Nukman Luthfie diatas, pengawasan orang tua wajib hukumnya.

    Terima kasih artikelnya mas. :) , wassalam

  6. Iwan S says:

    Internet Safety for Family, semoga semakin banyak yang peduli.

  7. pramono says:

    pada fitrahnya manusia akan mencari tau tentang yag dilarang. seperti perintah jangan lihat ke kiri. pasti malah melihat ke kiri. saya setuju kalau ada kontrol dari keluarga. saya lebih cenderung menyediakan fasilitas internet di rumah daripada anak harus curi curi pergi ke warnet.

    sama halnya saya mengajak mereka ke diskotik jam 12 malam untuk melihat ini lho kehidupan malam bersama istri dan keluarga. sehingga mereka tidak mencari tahu sendiri. walaupun pasti mreka akan bergaul dengan lingkungannya tetapi saya yakin efeknya tak sebesar kalau mencari tahu sendiri. mantap lah postingan mas kali ini

  8. phitagoras says:

    disini peran orang tua sangat penting, kita juga tidak bisa memonitor setiap saat.. berikan pengertian dan bimbingan kita kalau bisa browsing di internet bersama dan jelaskan tentang bahayanya, baik tentang seks serta lainnya.. yang paling penting juga berikan pendidikan agama agar bisa menjadi modal utama sebagai benteng diri.. itu menurut saya. thanks
    phitagoras recently posted..Training Ahli K3 Umum Bandung 29 Oktober – 10 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge
forklift forklift kiralama ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme Casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------- Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- cilt bakımı ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme