forklift forklift kiralama ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme Casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------- Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- cilt bakımı ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme

Pedofil Online Memangsa Anak Indonesia!

Share Button

Media Tempo, belum lama berselang melakukan investigasi kecil di ranah maya. Dalam 7 (tujuh) jam menggunakan identitas samaran, mengaku bernama Lisa, sebagai anak perempuan berusia 14 tahun, Tempo berhasil menarik setidaknya 75 diduga predator online yang menawarkan berbagai aktifitas seksual. Sejumlah aktifitas seksual tersebut semisal chat esek-esek, video chat porno, atau bahkan ada yang terang-terangan mengajak untuk bertemu muka.

Predator online, atau juga dikenal sebagai pelaku pedofil di Internet, sudah menjadi ancaman yang cukup nyata di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh organisasi hak anak yang berbasis di Belanda, Terres des Homes, di Indonesia saja pada 2013 ini sudah berhasil diketahui sejumlah predator online yang bermukim dan mencari mangsa di Indonesia.

fight_child_pornMenurut FBI, secara umum ada dua jenis pelaku pedofil di Internet, yaitu mereka yang menginginkan ada pertemuan face-to-face dengan target korbannya, dan yang lainnya adalah mereka yang mengoleksi dan bertukar gambar pornografi anak dengan pelaku pedofil lainnya. Bahkan kasus terbaru di Boston, seorang pria diputus bersalah karena menyatakan berencana menculik anak-anak untuk lantas dibunuh, dimasak dan dimakan (kanibalisme)!

Pelaku pedofil adalah orang yang secara berkelanjutan memiliki orientasi seksual terhadap anak-anak yang belum memasuki usia pubertas, yang pada umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda. Tidak semua pedofil melakukan penganiayaan seksual (baca: perkosaan) terhadap anak, dan demikian pula sebaliknya. Beberapa pelaku pedofil ada yang bisa menahan diri untuk tidak mendekati secara seksual terhadap anak. Adapun asal kata pedofilia adalah dari bahasa Yunani, yaitu “pais” yang berarti “anak-anak” dan “philia” yang berarti “persahabatan”.

Terminologi pedofilia untuk menggambarkan pikiran erotisme orang dewasa terhadap anak-anak pertama kalinya digunakan pada tahun 1886 oleh seorang psikiatris dari Vienna, Richard von Krafft-Ebing, dalam tulisannya yang berjudul Psychopathia Sexualis.

Saat melakukan pendekatan kepada target korban, pelaku pedofil akan menggunakan identitas samaran yang tampak tidak “berbahaya”, semisal menjadi seorang konselur, guru ataupun dokter. Dengan dibantu data yang diperoleh oleh si predator secara leluasa dari akun media sosial milik target, maka dilakukanlah pendekatan dengan membicarakan hal-hal yang disukai oleh target, semisal menyebut nama teman yang lain, membincangkan kelompok band tertentu, ataupun bahkan tentang kesehatan.

Penyebab

Pendekatan ini, yang disebut FBI sebagai “grooming“, dapat berlangsung beberapa hari hingga bilangan mingguan. Jika sudah terjadi hubungan emosional saling percaya antara predator dengan targetnya, maka mulailah dilaksanakan aksi untuk membawa topik esek-esek, meminta target untuk mengirimkan foto dirinya dalam pose vulgar hingga mengajak untuk bertemu.

satujurnal

Menurut Terres des Homes, setidaknya ada 4 (empat) penyebab terjadinya kasus pedofilia online, yaitu: rendahanya pengawasan orangtua yang kemungkinan karena gaptek, ada problem dalam keluarga, status ekonomi dan pengaruh dari teman atau lingkungan sekitar. Dan hampir setiap anak yang menjadi korban pelecehan seksual di Internet, berkenalan dengan pelakunya via media sosial. Media sosial, seperti Facebook, adalah menjadi tempat yang subur bagi anak untuk secara sadar ataupun tidak, lantas mengumbar privasinya. Meskipun Facebook telah menetapkan aturan bahwa penggunanya wajib berusia minimal 13 (tiga belas) tahun, namun tetap saja hal tersebut mudah untuk dilanggar.

Pun definisi anak, menurut UU Hak Asasi Manusia, UU Perlindungan Anak, UU Pornografi, UU Kewarganegaraan RI dan UU Perkawinan, adalah setiap manusia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah11.

Data di bawah ini menjelaskan tentang tren pencarian di Google dengan menggunakan kata kunci “abg bugil”, “smp bugil” dan “sma bugil”. Jelas sekali bahwa tren pencarian informasi yang mengandung kata kunci tersebut senantiasa menanjak. Ini menunjukkan bahwa “kebutuhan” atas informasi, dalam hal ini berupa gambar vulgar yang diperankan oleh anak (baca: pornografi anak), terus tumbuh.

minatseiringwaktu
(Sumber: Google Trends)

Siswi SD

Saat ini, saya bersama sejumlah teman-teman yang peduli, tengah membantu salah satu kasus pedofil yang menimpa siswi sekolah dasar di sebuah kota di Jawa Timur. Dengan berkedok sebagai seorang dokter perempuan muda di Facebook, seorang pelaku pedofil berhasil memberdaya setidaknya 4 (empat) korban dari sebuah sekolah dasar yang sama. Dengan alasan berdiskusi tentang kesehatan alat reproduksi, para korban berhasil dibujuk rayu untuk mengirimkan gambar-gambar vulgar dirinya sendiri, yaitu gambar payudara dan vagina.

topi-sdLantas gambar-gamber tersebut disebarluaskan kemana-mana oleh pelaku pedofil tersebut, hingga saat tulisan ini dibuat. Penyebarannya melalui forum online, Facebook dan sebagainya. Tak cukup hanya itu, pelakunya pun membubuhi aneka informasi fitnah yang keji untuk menyertai foto-foto tersebut. Semisal, bahwa orangtuanya memaksa untuk menjual kegadisan anaknya hingga dikatakan sebagai korban perkosaan dari guru di sekolahnya. Dan, foto orangtua dan guru dari para korban tersebut, turut digadang-gadang untuk makin mempermalukan keluarga yang nahas tersebut! (Silakan baca twitserial saya dengan tagar #pedofilnet di chirpstory)

Kasus tersebut saat ini sudah berada di tangan kepolisian setempat. Proses penuntasan atas kasus ini memang tidak mudah. Ada indikasi bahwa pelakunya adalah orang yang cukup paham dan cukup sering melakukan aksi pedofilia online dengan tujuan mengumpulkan gambar pornografi anak. Dan bukan tidak mungkin, ini merupakan sebuah sindikat “bawah tanah” yang memang saling bertukar koleksi atau bertransaksi pornografi anak.

Apalagi, jika pihak korban ataupun keluarganya kemudian tak mau melaporkan kasus ini ke pihak yang berwenang. Pada contoh di atas, dari 4 (empat) korban, hanya 1 keluarga yang bersedia melaporkan kasusnya kepada pihak kepolisian. Sedangkan yang lainnya, dengan berbagai alasan yang tentunya bisa dipahami, lebih memilih diam.

Gunung Es

Jelas, bahwa apa yang muncul di permukaan, ibarat hanyalah pucuk gunung es saja. Kasus-kasus serupa yang menimpa anak-anak di Indonesia, tentunya jauh lebih banyak dan lebih “berbahaya” lagi, namun terbungkam oleh rasa malu yang luar biasa dari para korban dan keluarganya. Alasannya, mereka kuatir terekspos privasi anak ataupun keluarganya, ataupun mungkin saja mereka tidak tahu harus berkonsultasi dengan siapa yang dapat dipercaya, jika menghadapi kasus ini.

Jika bicara keselamatan anak di ranah online (Internet), maka selain sejumlah kasus pedofilia dan pornografi anak sebagaimana digambarkan di atas, juga perlu diwaspadai dan diambil tindakan segera untuk mencegah serangkaian penculikan yang diawali dari perkenalan di media sosial, seperti Facebook contohnya.

Berikut ini hanyalah sebagian kecil kasus per 2013, yang sempat menjadi perhatian media massa:

  • Januari 2013, seorang siswi SMK di Makale – Tana Toraja, dibawa kabur oleh teman pria yang dikenalnya via Facebook.
  • Maret 2013, seorang siswi SMK di Jakarta Timur diculik oleh temannya di Facebook.
  • April 2013, seorang siswi MAN di Purworejo, diculik, disekap dan diperkosa oleh pelaku yang baru dikenalnya via Facebook.
  • Oktober 2013, seorang siswi SMP di Makassar diculik dan disetubuhi oleh seseorang yang dikenalnya di Facebook.

Kasus-kasus di atas terus berulang dari tahun ke tahun!

Dan parahnya, diduga kuat sudah ada sindikat pelaku human trafficking di Indonesia yang menggunakan Facebook untuk menjerat korbannya. Sebagaimana yang nasib nahas oleh seorang anak perempuan berusia 14 (empat belas) tahun di Depok, yang pada Oktober 2012 lalu berhasil dibujuk untuk melakukan pertemuan dengan seseorang yang baru dikenalnya via Facebook. Dan yang terjadi berikutnya adalah penyekapan dirinya bersama 5 (lima) anak perempuan lainnya yang berusia 14-17 tahun. Mereka dijejali minuman beralkohol agar mabuk, dan lantas disetubuhi berulang oleh orang yang berbeda.

Setelah seminggu mendapat siksaan yang keji, didapatlah kabar bahwa dirinya akan dijual ke tempat prostitusi di Batam. Setiap jeritan histerisnya, kontan dibalas dengan pukulan dan ancaman akan dibunuh oleh pelakunya. Walau korban akhirnya dilepaskan oleh pelakunya, namun tak jelas dengan nasib korban lainnya yang masih disekap. Menurut Komnas Perlindungan Anak, sepanjang 2012 lalu saja setidaknya ada 27 kasus penculikan anak yang awalnya melalui perkenalan via Facebook. Dan 1 dari 27 korban tersebut, ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Bully

Selain dari kasus pedofilia dan pornografi anak hingga penculikan dan pelecehan seksual, hal lain yang juga perlu diwaspadai dalam kerangka keselamatan anak di Internet adalah bullying online. Di sejumlah negara, korban dari bullying online ini bahkan hingga melakukan tindakan bunuh diri. Salah satu yang cukup fenomenal adalah kasus Amanda Todd.

amandatoddjpg

Amanda bunuh diri pada Oktober 2012 pada usia 15 (lima belas) tahun karena tak tahan dengan bully yang diterimanya. Sebelum meninggalnya, Amanda membuat postingan di YouTube, menceritakan dengan menggunakan flash card, tentang bagaimana dirinya diperas, di-bully dan bahkan menerima kekerasan fisik. Video tersebut kemudian menjadi semacam monumen tentang dampak bully yang ternyata sama sekali tidak sepele.

Jadi, berbuatlah sesuatu detik ini juga! Sesal kemudian tidak berguna, jika ternyata anak, adik, keponakan, saudara atau teman kita sendirilah yang menjadi korbannya.

Di sinilah perlu adanya kepedulian dan dialog bersama antar para pemangku kepentingan yang beragam, baik pemerintah, swasta maupun civil society. Dengan demikian diharapkan secara sinergis dan komprehensif, dappat dirumuskan dan dilakukan suatu tindakan pencegahan yang ajeg agar kasus ini tidak semakin meningkat, baik intensitas maupun dampak yang ditimbulkannya. Ini kita bicara keselamatan anak-anak Indonesia, anak-anak kita sendiri…!

-dbu-

Share Button

18 Comments

  1. ope says:

    inilah bahayanya internet selain banyak juga manfaatnya. Perlu pengawasan dari pihak orang tua juga perlu kesadaran dari si pengguna akan banyaknya bahaya yang mengintai. karena internet tak selamanya menghasilkan manfaat bagu penggunanya.

  2. vivi says:

    ya Tuhan bagaimana nanti aku membimbing dan mengawasi anakku yang beranjak remaja, seperti aku dulu sangat2 ketat dijaga ole mamaku yang bikin aku berontak karena iri dengan teman2 sebaya yang bebas lepas pergi kemana mereka mau dan diijinkan untuk berpacaran, tapi aku menyadarkan diri sendiri bahwa orangtua menjaga ku untuk kebaikan ku sendiri nantinya, harus dari dalam diri sendiri menekankan melindungi diri sendiri, belajar dunia luar itu berbahaya untuk anak remaja yang sedang mencari jati diri, dunia internet ini sangat lah tidak mudah untuk kita selalu bisa mengawasi anak2 kita dalam menggunakannya, yang bisa kita lakukan adalah menceritakan positif dan negatifnya internet,dan meminta mereka untuk sangat berhati2 berteman atau mendapatkan kenalan dari dunia maya. semoga orangtua dimana pun sadar juga bahayanya internet bagi anak2 agar dapat melindungi anak2 dari bahayanya internet.

  3. airyz says:

    di satu sisi layanan sosial media bisa menjadi ajang untuk saling bersilaturahmi, tapi bisa juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk berbuat kejahatan. miris.

  4. mengerikan banget astagfirullah

  5. tyas says:

    bener banget anak-anak sekarang ga peduli dengan privasi mereka, apapun yang mereka rasakan diumbar di sosial media, sampai-samapi jadi rahasia umum. klo diberitahu mereka mlah mengelak dan membela diri dengan alasan takut dibilang gaptek…

  6. […] link tulisan dari mas Donny http://donnybu.com/2014/01/07/pedofil-online-memangsa-anak-indonesia/ semoga bisa menjadi referensi untuk tetap […]

  7. bastian says:

    izin copy mas…infonya.

  8. childless by choice says:

    Untung saya childless by choice. Selamat berjuang deh para orang tua…

  9. […] Dan terjadi di Indonesia.  Menurut Komnas Perlindungan Anak, sepanjang 2012 lalu setidaknya ada 27 kasus penculikan anak yang awalnya melalui perkenalan via Facebook. Dan 1 dari 27 korban tersebut, ditemukan dalam […]

  10. dobelden says:

    Hiks.. miris banget, mari bersinergi menyebarluaskan informasi fedofilia mengerikan ini

  11. Apa yang bisa kita lakukan bersama untuk mencegah hal ini semakin meluas? Paling tidak, mengerem bertambahnya kasus seperti di atas.
    Edukasi untuk orang tua dan anak-anak sudah sangat mendesak. Pemahaman social media dan online privacy sudah perlu diberikan di sekolah-sekolah, sejak kelas 4 atau 5 SD. Perlu juga POMG sekolah-sekolah bergerak mengajak para orang tua agar melek terhadap masalah ini.
    Apa lagi ya Don?

  12. Rini Sumaryo says:

    Kaya buah simalakama, kemajuan teknologi yang tidak disertai pengetahuan yang cukup. Semoga tidak semakin banyak korban berjatuhan dan si pelaku dapat segera terungkap & tertangkap, setidaknya sadar untuk tidak berbuat lagi.
    Sebaiknya para orang tua yang masih mempunyai ABG/remaja ke bawah rajin memantau kegiatan internet anak2nya, sebagai preventif.

  13. […] Bahkan seringkali anak-anak menjadi korban kejahatan digital. Kasus terbaru saat ini adalah Pedofil Online Memangsa Anak Indonesia!. Apakah kita akan terus-menerus lupa untuk mengajarkan kemampuan digital pada anak-anak […]

  14. Mari kita jaga anak-anak kita dan generasi kita. Terimakasih sudah berbagi

  15. galuh says:

    Dunia semakin gila dengan berbagai tingkah laku manusianya yang tidak bertanggungjawab. Semoga anak-anak kita/generasi muda kita bisa terhindar dari perbuatan-perbuatan seperti tersbut dengan peran dari berbagai pihak yang sangat dibutuhkan.

  16. […] B.U. dalam blognya memaparkan tentang bagaimana dan seberapa parah predator online memangsa anak-anak kita. Sebuah paparan yang lengkap dan seharusnya membelah kesadaran orang tua dan guru untuk melindungi […]

  17. […] berita terbaru dan ulasan Komandan ICT Watch, Donny BU silahkan membaca tulisannya yang berjudul Pedofil Online Memangsa Anak Indonesia! […]

  18. luthfi says:

    Dan sampai saat ini semakin banyak kasus-kasus yang terjadi, sungguh sangat miris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

forklift forklift kiralama ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------------- telefon dinleme Casus telefon ----------------------------------------------------------------------------------------------- Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon Lazer Epilasyon --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- cilt bakımı ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon Casus telefon telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme Casus telefon telefon dinleme telefon dinleme